MANDAU, Senjata Tradisional Khas suku Dayak Kalimantan
feature, traveling 05.21
Tweet
Jabresnet-Suku
Dayak merupakan suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan.
Konon, suku Dayak ini dianggap sebagai penduduk asli pulau Kalimantan.
Bercerita tentang Suku Dayak, kiita tidak dapat terpisah dari satu nama
yakni Mandau, senjata tradisional suku Dayak. Dulu, Mandau hanya
dijadikan sebagai salah satu senjata perang melawan musuh. Bagi suku
Dayak, Mandau tak hanya sekedar sebilah senjata tajam. Mandau juga
dipercaya memiliki kesakralan. Suku Dayak percaya, Mandau dapat
memberikan kehormatan pada si pemiliknya.
Ada
dua macam Mandau dimiliki suku Dayak yaitu, Mandau khusus untuk perang
ataupun ritual khusus. Ada juga Mandau yang sengaja dibuat untuk hiasan
dan dipajang di dinding. Konon, Mandau yang asli dipercaya memiliki
kekuatan magis.
Ilmu suku Dayak yang diyakini sebagai petunjuk leluhur ada di dalam Mandau tersebut. Ketika dipakai untuk berperang, senjata ini dapat memberikan kekuatan magis bagi si pemiliknya. Bahkan, Mandau ini juga dipercaya dapat membuat sang pemiliknya menjadi kebal saat menghadapi musuh. Meskipun ada dua jenis, bentuk Mandau tetaplah sama.
Sahabat Sarinah, bentuk Mandau relatif sama dengan parang dan terbuat dari besi. Sementara bagian hulu atau pegangannya terbuat dari kayu. Ada juga hulu yang terbuat dari tanduk kerbau ataupun tanduk rusa. Biasanya, ukiran berbentuk burung Enggang, salah satu jenis burung di Kalimantan menjadi ciri khasnya.
Di bagian ujung hulu Mandau terkadang juga diberi bulu binatang atau rambut manusia. Bagian yang tak pernah lepas dari Mandau adalah sarung pembungkus Mandau yang terbuat dari kayu yang dalam bahasa Dayak, namanya kumpang. Sama seperti bagian bilahnya, pada bagian kumpang juga terdapat berbagai motif ukiran khas Dayak.
Untuk membuat sebilah Mandau tidaklah mudah. Mengingat ada jenis Mandau yang memiliki kekuatan magis, senjata ini secara khusus dibuat oleh pandai besi handal. Pembuat Mandau khusus untuk ritual ataupun perang haruslah memiliki kekuatan gaib. Konon, untuk memperoleh kekuatan itu, si pandai besi tersebut harus bertapa dan memohon petunjuk dari leluhur terlebih dahulu.
Untuk proses pembuatannya-pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Besi untuk Mandau harus terbuat dari baja agar bertahan lama. Proses akhir pembuatan Mandau yakni membuat baja lebih keras. Jika salah dalam proses pencelupan, Mandau akan menjadi bengkok. Jika ini terjadi, hasil kerja membuat bilah Mandau selama sehari akan percuma. Bilah Mandau juga harus diasah sedemikian rupa hingga tajam. Terlebih lagi, ketika proses pengukiran. Waktu pembuatannya akan lebih lama, jika ukiran yang diinginkan semakin bermotif.
Ilmu suku Dayak yang diyakini sebagai petunjuk leluhur ada di dalam Mandau tersebut. Ketika dipakai untuk berperang, senjata ini dapat memberikan kekuatan magis bagi si pemiliknya. Bahkan, Mandau ini juga dipercaya dapat membuat sang pemiliknya menjadi kebal saat menghadapi musuh. Meskipun ada dua jenis, bentuk Mandau tetaplah sama.
Sahabat Sarinah, bentuk Mandau relatif sama dengan parang dan terbuat dari besi. Sementara bagian hulu atau pegangannya terbuat dari kayu. Ada juga hulu yang terbuat dari tanduk kerbau ataupun tanduk rusa. Biasanya, ukiran berbentuk burung Enggang, salah satu jenis burung di Kalimantan menjadi ciri khasnya.
Di bagian ujung hulu Mandau terkadang juga diberi bulu binatang atau rambut manusia. Bagian yang tak pernah lepas dari Mandau adalah sarung pembungkus Mandau yang terbuat dari kayu yang dalam bahasa Dayak, namanya kumpang. Sama seperti bagian bilahnya, pada bagian kumpang juga terdapat berbagai motif ukiran khas Dayak.
Untuk membuat sebilah Mandau tidaklah mudah. Mengingat ada jenis Mandau yang memiliki kekuatan magis, senjata ini secara khusus dibuat oleh pandai besi handal. Pembuat Mandau khusus untuk ritual ataupun perang haruslah memiliki kekuatan gaib. Konon, untuk memperoleh kekuatan itu, si pandai besi tersebut harus bertapa dan memohon petunjuk dari leluhur terlebih dahulu.
Untuk proses pembuatannya-pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Besi untuk Mandau harus terbuat dari baja agar bertahan lama. Proses akhir pembuatan Mandau yakni membuat baja lebih keras. Jika salah dalam proses pencelupan, Mandau akan menjadi bengkok. Jika ini terjadi, hasil kerja membuat bilah Mandau selama sehari akan percuma. Bilah Mandau juga harus diasah sedemikian rupa hingga tajam. Terlebih lagi, ketika proses pengukiran. Waktu pembuatannya akan lebih lama, jika ukiran yang diinginkan semakin bermotif.
source:http://www.sahabatsarinah.com/read/19/mandau-senjata-tradisional-suku-dayak-kalimantan







