Si Tori si Orangutan Perokok akan Dijauhkan dari Pengunjung
nasional 04.23
Tweet

Jabresnet-Bila kebiasaan itu diteruskan, Didik, pasangan si orangutan, dikhawatirkan juga akan jadi perokok.
Tori, orangutan kecanduan rokok yang tinggal di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Surakarta, akan harus melupakan kebiasaan merokoknya. Soalnya, Center for Orangutan Protection (COP) bekerja sama dengan pengelola Taman Satwa sedang mengatur opsi untuk memindahkan dia ke sebuah pulau di tengah danau, agar jauh dari jangkauan pengunjung yang kerap memberinya rokok.
"Kami telah mengusulkan pada TSTJ untuk memindahkan dia ke pulau di tengah danau, untuk menjauhkannya dari pengunjung," kata Daniek Hendarto, Koordinator COP, kepada Beritasatu.com.
Daniek mengatakan bahwa Tori pertama kali belajar merokok dengan meniru pengunjung yang kerap merokok di dekat kandangnya. Orangtua Tori sendiri juga perokok.
"Orangutan dan manusia memiliki kemiripan sampai 97 persen," kata Daniek. "Perilaku manusia ditiru orangutan, karenanya mereka meniru pengunjung yang merokok," lanjutnya.
Awalnya, kata Daniek, Tori melihat pengunjung yang merokok. Lalu dia mulai menghisap puntung rokok yang dilemparkan pengunjung ke kandangnya. Sekarang, dia terbiasa secara aktif meminta rokok kepada pengunjung dengan mengacungkan dua jari tangannya. Bila ditolak, Tori marah dan akan melempar barang-barang ke pengunjung.
Menariknya, pasangan Tori yang bernama Didik, yang adalah penghuni baru taman satwa itu, tidak mau merokok. Ketika seseorang pernah melemparkan rokok ke arahnya, dia malah mematikan rokok itu.
Pengelola TSTJ memutuskan bekerja sama dengan COP untuk menangani empat orangutan di sana, termasuk dalam mencari penyelesaian untuk masalah Tori. Sebelumnya, pihak pengelola TSTJ sudah mencoba menghentikan dia merokok.
Tori sendiri cenderung tidak sekaligus menghabiskan rokoknya. Biasanya dia mengambil waktu untuk bermain sebelum kembali lagi merokok. Pada waktu Tori pergi, penjaga hewan menyiram rokoknya dengan air. Para penjaga itu juga sudah memperingatkan pengunjung untuk tidak merokok.
"Di Jurug masih minim pengawasan. Biasanya kalau ada petugas, pengunjung yang memberikan rokok ditegur," kata Daniek. "Tapi biasanya (rokok itu) diberikan pada saat petugas lengah," sambungnya.
Untuk diketahui, Tori dan Didik ditempatkan dalam kandang terbuka berukuran kurang lebih 10x8 meter yang dikelilingi oleh tembok rendah dengan ketinggian sekitar 1 meter. Dengan kandang terbuka ini, pengunjung dengan mudah melemparkan rokok. Daniek khawatir bila kebiasaan itu diteruskan, Didik juga akan menjadi perokok.
Sementara rencana untuk memindahkan Didik dan Tori masih dalam pembahasan, COP pun memberikan pelatihan bagi para penjaga hewan untuk melakukan food enrichment atau pengayaan pakan. "Food enrichment ini (dilakukan) dengan menempatkan makanan di dalam tabung-tabung bambu, atau menyembunyikan dalam daun-daunan atau kardus," kata Daniek. "Ini akan membuat dia tertantang untuk berpikir dan melupakan keinginan untuk merokok," ujarnya.
Dikatakan, jika jadi dipindahkan, Tori tidak akan merasa kesepian atau terisolasi tinggal berdua dengan Didik di pulau, karena pulau itu sendiri menjadi habitat baik untuk keduanya dengan pohon-pohon yang tinggi. "Kita juga akan menempatkan alat untuk gelantungan," kata Daniek. "Mereka akan senang bila sebelum waktu tidur mereka bisa memanjat pohon yang tinggi dan mengamati sekitarnya," sambungnya.source:http://www.beritasatu.com

Jabresnet-Bila kebiasaan itu diteruskan, Didik, pasangan si orangutan, dikhawatirkan juga akan jadi perokok.
Tori, orangutan kecanduan rokok yang tinggal di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Surakarta, akan harus melupakan kebiasaan merokoknya. Soalnya, Center for Orangutan Protection (COP) bekerja sama dengan pengelola Taman Satwa sedang mengatur opsi untuk memindahkan dia ke sebuah pulau di tengah danau, agar jauh dari jangkauan pengunjung yang kerap memberinya rokok.
"Kami telah mengusulkan pada TSTJ untuk memindahkan dia ke pulau di tengah danau, untuk menjauhkannya dari pengunjung," kata Daniek Hendarto, Koordinator COP, kepada Beritasatu.com.
Daniek mengatakan bahwa Tori pertama kali belajar merokok dengan meniru pengunjung yang kerap merokok di dekat kandangnya. Orangtua Tori sendiri juga perokok.
"Orangutan dan manusia memiliki kemiripan sampai 97 persen," kata Daniek. "Perilaku manusia ditiru orangutan, karenanya mereka meniru pengunjung yang merokok," lanjutnya.
Awalnya, kata Daniek, Tori melihat pengunjung yang merokok. Lalu dia mulai menghisap puntung rokok yang dilemparkan pengunjung ke kandangnya. Sekarang, dia terbiasa secara aktif meminta rokok kepada pengunjung dengan mengacungkan dua jari tangannya. Bila ditolak, Tori marah dan akan melempar barang-barang ke pengunjung.
Menariknya, pasangan Tori yang bernama Didik, yang adalah penghuni baru taman satwa itu, tidak mau merokok. Ketika seseorang pernah melemparkan rokok ke arahnya, dia malah mematikan rokok itu.
Pengelola TSTJ memutuskan bekerja sama dengan COP untuk menangani empat orangutan di sana, termasuk dalam mencari penyelesaian untuk masalah Tori. Sebelumnya, pihak pengelola TSTJ sudah mencoba menghentikan dia merokok.
Tori sendiri cenderung tidak sekaligus menghabiskan rokoknya. Biasanya dia mengambil waktu untuk bermain sebelum kembali lagi merokok. Pada waktu Tori pergi, penjaga hewan menyiram rokoknya dengan air. Para penjaga itu juga sudah memperingatkan pengunjung untuk tidak merokok.
"Di Jurug masih minim pengawasan. Biasanya kalau ada petugas, pengunjung yang memberikan rokok ditegur," kata Daniek. "Tapi biasanya (rokok itu) diberikan pada saat petugas lengah," sambungnya.
Untuk diketahui, Tori dan Didik ditempatkan dalam kandang terbuka berukuran kurang lebih 10x8 meter yang dikelilingi oleh tembok rendah dengan ketinggian sekitar 1 meter. Dengan kandang terbuka ini, pengunjung dengan mudah melemparkan rokok. Daniek khawatir bila kebiasaan itu diteruskan, Didik juga akan menjadi perokok.
Sementara rencana untuk memindahkan Didik dan Tori masih dalam pembahasan, COP pun memberikan pelatihan bagi para penjaga hewan untuk melakukan food enrichment atau pengayaan pakan. "Food enrichment ini (dilakukan) dengan menempatkan makanan di dalam tabung-tabung bambu, atau menyembunyikan dalam daun-daunan atau kardus," kata Daniek. "Ini akan membuat dia tertantang untuk berpikir dan melupakan keinginan untuk merokok," ujarnya.
Dikatakan, jika jadi dipindahkan, Tori tidak akan merasa kesepian atau terisolasi tinggal berdua dengan Didik di pulau, karena pulau itu sendiri menjadi habitat baik untuk keduanya dengan pohon-pohon yang tinggi. "Kita juga akan menempatkan alat untuk gelantungan," kata Daniek. "Mereka akan senang bila sebelum waktu tidur mereka bisa memanjat pohon yang tinggi dan mengamati sekitarnya," sambungnya.source:http://www.beritasatu.com







